Uncategorized

Wisata ke Kampung Budaya Polowijen

Aku merasa tempat ini kurang populer, indikatornya adalah belum banyak rombongan dengan bus pariwisata yang mendatangi tempat ini. Tetapi tidak terdapat salahnya bila aku kembali menuangkannya, pasti dalam tipe yang berbeda bersamaan dengan pertumbuhan yang terjalin di dekat web memiliki tersebut.

Bermula dari ketertarikan membaca serta mendengar cerita cinta melegenda antara Ken Dedes serta Ken Arok, sedikit banyak pengaruhi sebagian ilham cerpen yang sempat aku tulis di surat kabar

Semenjak dikala itu rasa keingintahuan tidak terbendung lagi. Tidak lumayan rasanya bila aku cuma membaca novel sejarah ataupun semata- mata mendengar cerita secara getok tular semata. Sekalipun menulis fiksi adakalanya kita wajib melaksanakan studi ataupun investigasi.

Hingga kala waktu itu terdapat, bergegaslah kaki ini melangkah menyusuri jalanan cocok dengan panggilan hati. Menapak tilas aset memiliki yang berhubungan dengan Ken Dedes serta Ken Arok( buat napak tilas web Ken Arok hendak aku tulis di postingan selanjutnya).

Berangkat dekat jam 09. 00 Wib, Senin 13 Januari 2020, sampailah aku di Desa Polowijen. Yang dulu diketahui bagaikan Desa Panawijen. Tidak sangat susah menciptakan desa tersebut. Sebab memanglah posisinya lumayan dekat dari tempat tinggal aku serta lokasinya pula sangat gampang dijangkau.

Semacam yang sempat dituturkan oleh Mbah Ukik, web tersebut kala aku datangi masih belum berganti keadaannya. Sumur Windu, Watu Dakon, Watu Kenong serta sebagian batu prasasti yang lain masih ajeg terletak di antara rerimbunan semak serta pepohon di samping Makam Islam Kelurahan Polowijen.

Kehadiran aku pagi itu disambut ramah oleh Bapak- bapak penjaga web. Kami juga mengobrol panjang lebar. Membicarakan seputar Kerajaan Singasari serta situs- situs peninggalanya. Sangat menarik.

” Menimpa upaya pelestarian web Ken dedes ini, seluruh dikerjakan secara swadaya. Murni gotong royong warga dekat,” tutur Mas Jubair selaku perwakilan penjaga web. Aku mengangguk mengerti. Sambil dalam hati berharap mudah- mudahan pemerintah setempat turut tergerak menolong serta mengapresiasi keberadaan web yang tidak ternilai biayanya ini.

Kemunculan Kampung Budaya Polowijen

Perihal yang unik sekalian menarik, dikala merambah kawasan mengarah web petilasan Ken Dedes yang terletak di samping makam Islam tersebut merupakan, aku wajib melintasi suatu perkampungan simpel yang berderet di sejauh pinggiran sungai kecil. Yang ditempati oleh kisaran 15 keluarga.

Kampung kecil itu jadi sangat populer serta istimewa sebab pada bertepatan pada 2 April 2017 kemudian sudah ditetapkan oleh Walikota Malang bagaikan Kampung Sentra Budaya.

Peresmian tersebut bukan tanpa karena. Tidak hanya terdapatnya web memiliki yang banyak ditemui di situ, Desa Polowijen semenjak era penjajahan Belanda populer bagaikan desa yang mempunyai kebudayaan yang besar. Dari desa ini bermunculan empu- empu kriya, pakar pembuatan gerabah, pakar pembuatan topeng Malangan serta gudangnya para penari tradisional.

Pencanangan predikat tersebut diharapkan dapat berikan support untuk warga Polowijen serta sekitarnya buat terus melindungi kelestarian peninggalan budaya leluhur. Dan menjadikan Kampung Budaya Polowijen bagaikan salah satu andalan destinasi wisata yang terdapat di Kota Malang sehingga sanggup membangkitkan ekonomi kreatif yang terdapat di dalamnya.

Terdapat banyak harapan disematkan pada Kampung Budaya Polowijen ini. Utamanya bagaikan kampung percontohan serta pendidikan.

Kala aku melintasi jalanan kecil di sejauh perkampungan, rasa kagum membuncah penuhi ruang dada aku. Terlebih dikala memandang masyarakat guyub bergotong royong mengadakan pembenahan di sana- sini. Serta nampak pula masyarakat kampung bekerja dibantu oleh para mahasiswa dari Universitas Malang yang tengah mengadakan KKN.

Banyak aktivitas makin gempar kala atap- atap yang dibuat dari welit diturunkan. Warnanya para mahasiswa lagi mempersiapkan panggung buat perhelatan akbar dalam rangka penutupan KKN yang rencananya hendak diselenggarakan pada bertepatan pada 26 Januari 2020 mendatang.

Kesimpulannya, semacam biasa, sambil melenggang riang saat sebelum kembali, tangan ini padat jadwal mengabadikan momen indah yang terpampang di depan mata. Deretan topeng, gazebo, rumah- rumah khas pedesaan, sangat, sangat sayang buat diabaikan.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*